Panjer Adalah nama sebuah Desa / Kelurahan yang termasuk dalam
wilayah Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah. Nama
Panjer sendiri telah lama dikenal, jauh sebelum nama Kebumen itu ada,
tepatnya sejak masa Pra Islam. Satu hal yang sangat disayangkan adalah “
nyaris hilangnya riwayat Panjer baik dalam masyarakat Panjer itu
sendiri maupun dalam pengetahuan masyarakat Kabupaten Kebumen pada
umumnya, serta kurangnya perhatian dan pemeliharaan terhadap situs
bangunan peninggalan bersejarah dan budaya masa lampau yang terdapat di
daerah tersebut “.
Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, mengingat Panjer adalah cikal
bakal Berdirinya Kabupaten Kebumen. Sebagai desa yang kini berbentuk
kelurahan, Panjer tetap khas dengan rasa dan suasana masa lampaunya.
Panjer Pra Mataram Islam
Dalam Kitab “ Babad Kedhiri “,
disebutkan:
“ Babagan kadipaten Panjer dicritakake nalika adipati Panjer sepisanan
mrentah ing Panjer, duwe kekareman adu pitik. Sawijining dina nalika
rame-ramene kalangan adu pitik ing pendhapa kadipaten, ana salah sijine
pasarta sing jenenge Gendam Asmarandana, asale saka Desa Jalas.
Gendam Asmarandana sing pancen bagus rupane kuwi wusana ndadekake para
wanita kayungyun, kalebu Nyai Adipati Panjer. Nyai Adipati sing weruh
baguse Gendam Asmarandana uga melu-melu kayungyun. Kuwi ndadekake
nesunya Adipati Panjer. Nalika Adipati Panjer sing nesu kuwi arep
merjaya Gendam Asmarandana kanthi kerise, Gendam Asmarandana kasil endha
lan suwalike kasil nyabetake pedhange ngenani bangkekane Adipati
Panjer.
Adipati Panjer sing kelaran banjur mlayu tumuju Sendhang Kalasan sing
duwe kasiyat bisa nambani kabeh lelara. Nanging durung nganti tekan
sendhang kasil disusul dening Gendam Asmarandana lan wusana mati. Gendam
Asmarandana sing weruh Adipati Panjer mati banjur mlayu tumuju omahe
nanging dioyak dening wong akeh. Gendam Asmarandana sing keweden banjur
njegur ing Sendhang Kalasan.
Wong-wong sing padha melu njegur ing sendhang, kepara ana sing nyilem
barang, tetep ora kasil nyekel Gendam Asmarandana. Wong-wong ngira yen
Gendam Asmarandana wus malih dadi danyang sing manggon ing sendhang
kuwi. Sabanjure kanggo ngeling-eling kedadeyan kuwi digawe pepethan saka
watu sing ditengeri kanthi aran Smaradana, mapan ing Desa Panjer ”.
Di dalam kitab tersebut, memang hanya sedikit sekali keterangan
tentang Panjer karena yang menjadi “ Objek Sentralnya “ adalah Kerajaan
Medangkamulan, Mamenang dan pergantian tahta ( jauh sebelum Ajisaka
masuk ke Jawa ), akan tetapi dari literatur di atas dapat disimpulkan
bahwa Panjer adalah sebuah wilayah yang memang sudah dikenal sejak masa
pra Islam.
Di Indonesia terdapat dua daerah yang menggunakan nama Panjer yakni di
Kabupaten Kebumen dan di Pulau Bali. Namun jika diamati dari segi
Genetik Historisnya ( istilah penulis ), maka Panjer Kebumen lah yang
disinyalir kuat sebagai suatu daerah yang dari dahulu telah bernama
Panjer dan merupakan tempat terjadinya beberapa peristiwa sejarah dari
masa ke masa.
Babad Panjer menurut periodisasi Mataram Islam
Mataram Islam adalah Kerajaan Mataram periode ke 2 yang pada mulanya
merupakan sebuah hutan lebat yang dikenal sebagai Alas Mentaok, wujud
hadiah dari Hadiwijaya ( Sultan Demak terakhir ) kepada Ki Ageng
Pemanahan atas jasanya dalam membunuh Arya Penangsang yang merupakan
saingan besar Hadiwijaya dalam perebutan tahta Kerajaan Demak. Ki Ageng
Pemanahan kemudian membabad hutan lebat tersebut dan menjadikannya
sebuah desa yang diberinya nama Mataram. Alas Mentaok itu sendiri
sebenarnya adalah bekas kerajaan Mataram Kuno yang runtuh sekitar tahun
929 M yang kemudian tidak terurus dan akhirnya dipenuhi oleh pepohonan
lebat hingga menjadi sebuah hutan. Alas Mentaok mulai dibabad oleh Ki
Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani sekitar tahun 1556 M. Ki Ageng
Pemanahan memimpin desa Mataram hingga Ia wafat pada tahun 1584 M dan
dimakamkan di Kotagedhe. Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan, sebagai
pengganti dipilihlah putranya yang bernama Sutawijaya / Panembahan
Senopati ( Raja Mataram Islam pertama, dimakamkan di Kotagedhe ).
Panembahan Senopati memerintah tahun 1587 – 1601 M. Ia digantikan oleh
putranya yang bernama Raden Mas Jolang / Sultan Agung Hanyakrawati (
wafat tahun 1613 M dimakamkan di Kotagedhe ). Sultan Agung Hanyakrawati
digantikan putranya yang bernama Raden Mas Rangsang yang kemudian
dikenal sebagai Sultan Agung Hanyakrakusuma ( memerintah tahun 1613 –
1646 M). Sultan Agung Hanyakrakusuma digantikan oleh Putranya yang
bernama Sultan Amangkurat Agung ( Amangkurat I memerintah pada tahun
1646 – 1677 M ).
Kerajaan Mataram Islam mengenal sistem pembagian wilayah berdasarkan
jauh – dekatnya dan tinggi – rendahnya suatu tempat, sehingga pada saat
itu dikenallah beberapa pembagian wilayah kerajaan yakni :
1. Negara Agung
2. Kuta Negara
3. Manca Negara
4. Daerah Bang / Brang / Sabrang Wetan
5. Daerah Bang / Brang / Sabrang Kulon.
Masa Pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah masa keemasan
Mataram. Ia memerintah dengan bijaksana, adil dan penuh wibawa, sehingga
rakyat pada masa itu merasakan ketentraman dan kemakmuran. Menurut
catatan perjalanan Rijklof Van Goens ( Ia mengunjungi Mataram lima kali
pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma ) disebutkan bahwa :
“ Mataram di bawah Sultan Agung bagaikan sebuah Imperium Jawa yang besar
dengan rajanya yang berwibawa. Istana kerajaan yang besar dijaga
prajurit yang kuat , kereta sudah ramai, rumah penduduk jumlahnya banyak
dan teratur rapi, pasarnya hidup, penduduknya hidup makmur dan
tenteram. Kraton juga punya penjara, tempat orang – orang jahat
pelanggar hukum dan tawanan untuk orang Belanda yang kalah perang di
Jepara. Pada masa Sultan Agung inilah dikenal secara resmi adanya sebuah
daerah lumbung pangan ( padi ) di Panjer dengan bupatinya bernama Ki
Suwarno.
Panjer termasuk dalam katagori daerah Mancanegara Bang / Brang / Sabrang
Kulon. Jauh sebelum nama Kebumen itu ada, tepatnya di daerah Karang Lo /
wilayah Panjer Gunung ( kini masuk dalam wilayah kecamatan Karanggayam
), sudah terdapat penguasa kademangan di bawah Mataram ( masa
pemerintahan Panembahan Senopati sekitar tahun 1584 M ). Di daerah
tersebut, cucu Panembahan Penopati yang bernama Ki Maduseno ( putra dari
Kanjeng Ratu Pembayun ( salah satu putri Panembahan Senopati ) dengan
Ki Ageng Mangir VI ) dibesarkan. Ki Maduseno menikah dengan Dewi Majati
dan kemudian berputra Ki Bagus Badranala ( Bodronolo; makam di desa
Karangkembang; dahulu masuk dalam wilayah Panjer Gunung ). Ki Badranala
adalah murid Sunan Geseng dari Gunung Geyong. Ia mempunyai peran yang
besar dalam membantu perjuangan Mataram melawan Batavia pada masa
pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Ki Badranala yang mempunyai
jiwa nasionalis tinggi, membantu Sultan Agung dengan menyediakan lokasi
untuk lumbung dan persediaan pangan dengan cara membelinya dari rakyat
desa. Pada tahun 1627 M prajurit Mataram di bawah pimpinan Ki Suwarno
mencari daerah lumbung padi untuk kepentingan logistik. Pasukan Mataram
berdatangan ke lumbung padi milik Ki Badranala dan selanjutnya daerah
tersebut secara resmi dijadikan Kabupaten Panjer di bawah kekuasaan
Mataram. Sebagai Bupati Panjer, diangkatlah Ki Suwarno, dimana tugasnya
mengurusi semua kepentingan logistik bagi prajurit Mataram. Karier
militer Ki Badranala sendiri dimulai dengan menjadi prajurit pengawal
pangan dan selanjutnya Ia diangkat menjadi Senopati dalam penyerangan ke
Batavia.
Dibakarnya Lumbung Padi Panjer
Sejarah nasional menyebutkan bahwa kekalahan Sultan Agung Hanyakrakusuma
disebabkan oleh dibakarnya lumbung – lumbung padi Mataram oleh Belanda,
dimana lumbung terbesar pada saat itu adalah lumbung yang berada di
Panjer ( kemungkinan besar lokasi tersebut berada di dalam kompleks
daerah yang kini menjadi Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati yang mempunyai
luas sekitar 4 Ha ). Peristiwa ini terjadi pada penyerangan Mataram
yang ke 3 dan sekaligus menjadi peperangan terakhir Sultan Agung
Hanyakrakusuma. Beliau wafat pada awal tahun 1645 M dan dimakamkan di
Imogiri. Selanjutnya, Pada masa Sultan Amangkurat I, Panjer berubah
menjadi sebuah desa yang tidak sesibuk ketika masih dijadikan pusat
lumbung padi Mataram pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Pembagian Wilayah Panjer
Panjer masa lalu dibagi dalam dua wilayah yaitu Panjer Roma ( Panjer
Lembah ) dan Panjer Gunung. Ki Badranala diangkat menjadi Ki Gedhe
Panjer Roma I atas jasanya menangkal serangan Belanda yang mendarat di
pantai Petanahan. Putra tertua Ki Badranala yang bernama Ki Kertasuta
bertugas sebagai Demang di wilayah Panjer Gunung, sedangkan adiknya yang
bernama ki Hastrasuta membantu ayahnya ( Ki Badranala ) di Panjer Roma.
Ki Kertasuta kemudian diangkat menjadi Patih Bupati Panjer, Ki Suwarno.
Ia dinikahkan dengan adik ipar Ki Suwarno dan berputra Ki Kertadipa. Ki
Badranala menyerahkan jabatan Ki Gedhe Panjer Roma kepada anaknya ( Ki
Hastrasuta ) yang kemudian bergelar Ki Gedhe Panjer Roma II. Beliaulah
yang kemudian berjasa memberikan tanah kepada Pangeran Bumidirja / Ki
Bumi ( paman Amangkurat I yang mengungsi ke Panjer sebab tidak sepaham
dengan Sultan Amangkurat I ). Tanah tersebut terletak di sebelah Timur
Sungai Luk Ula dengan panjang kurang lebih 3 Pal ke arah Selatan dan
lebar setengah ( ½ ) Pal ke arah Timur. Pangeran Bumidirja kemudian
membuka tanah ( trukah ) yang masih berupa hutan tersebut dan
menjadikannya desa. Desa inilah yang kemudian bernama Trukahan ( berasal
dari kata dasar Trukah yang berarti memulai ). Seiring berjalannya
waktu nama desa Trukahan kini hanya menjadi nama padukuhan saja (
sekarang masuk dalam wilayah kelurahan Kebumen ).
Riwayat desa Trukahan yang kemudian berubah menjadi Kelurahan Kebumen
pun kini nyaris hilang, meskipun Balai Desa / Kelurahan Kebumen hingga
kini berada di daerah tersebut.
Kutipan dari “ Babad Kebumen “ menyebutkan:
“ Kanjeng Pangeran Bumidirdja murinani sanget sedanipun Pangeran
Pekik, sirna kasabaranipun nggalih, punapadene mboten kekilapan bilih
Negari Mataram badhe kadhatengan bebendu. Puntonipun nggalih, Kanjeng
Pangeran Bumidirdja sumedya lolos saking praja sarta nglugas raga nilar
kaluhuran, kawibawan tuwin kamulyan.
Tindakipun Sang Pangeran sekaliyan garwa, kaderekaken abdi tetiga
ingkang kinasih. Gancaring cariyos tindakipun wau sampun dumugi tanah
Panjer ing sacelaking lepen Luk Ula. Ing ngriku pasitenipun sae lan
waradin, toyanipun tumumpang nanging taksih wujud wana tarabatan.
Wana tarabatan sacelaking lepen Luk Ula wau lajeng kabukak kadadosaken
pasabinan lan pategilan sarta pakawisan ingkang badhe dipun degi
padaleman…..
Kanjeng Pangeran Bumidirdja lajeng dhedhepok wonten ing ngriku sarta
karsa mbucal asma lan sesebutanipun, lajeng gantos nama Kyai Bumi…..
Sarehning ingkang cikal bakal ing ngriku nama Kyai Bumi, mila ing ngriku
lajeng kanamakaken dhusun Kabumen, lami – lami mingsed mungel Kebumen.
Dhusun Kebumen tutrukanipun Kyai Bumi wau ujuripun mangidul urut
sapinggiring lepen Luk Ula udakawis sampun wonten 3 pal, dene alangipun
mangetan udakawis wonten ½ pal ”.
Dalam Babad Kebumen memang tidak terdapat cerita mengenai desa
Trukahan, akan tetapi jika dilihat dari segi Logika Historis ( istilah
penulis ), yang dimaksud dengan Desa / Dhusun Kabumian adalah Trukahan.
Hal ini dapat ditelusuri berdasarkan Logika Historis antara lain :
1. Wilayah dan nama Trukahan sejak pra kemerdekaan hingga kini masih
tetap ada, dimana Balai Desa / Kelurahan Kebumen dan Kecamatan Kebumen
berada dalam wilayah tersebut ( sedangkan Pendopo Kabupaten masuk dalam
wilayah Bumirejo ).
2. Makam / Petilasan Ki Singa Patra yang sebetulnya merupakan Pamokshan,
sebagai situs yang hingga kini masih terawat dan diziarahi baik oleh
warga setempat maupun dari luar Kebumen ( meskipun belum diperhatikan
oleh Pemerintah baik Kelurahan maupun Kabupaten ) adalah makam tertua
yang ada di kompleks pemakaman Desa Kebumen. Singa Patra adalah sosok
tokoh yang nyaris hilang riwayatnya, meskipun namanya jauh lebih dikenal
oleh warga Kelurahan Kebumen sejak jaman dahulu kala dan diyakini
sebagai tokoh yang menjadi cikal bakal Desa Trukahan masa lampau.
Penulis mensinyalir bahwa Tokoh ini hidup lebih awal dibandingkan masa
kedatangan Badranala, sebab Beliau ( Badranala ) yang hidup pada masa
Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah pendatang di desa Panjer ( Lembah /
Roma ). Beliau sendiri berasal dari daerah Karang Lo ( yang dahulu masuk
dalam wilayah Panjer Gunung ). Sebagai seorang pendatang yang kemudian
berdiam di Panjer Roma, Badranala memperistri Endang Patra Sari. Endang
adalah sebutan kehormatan bagi perempuan Bangsawan. Hal ini bisa kita
lihat pada situs pemakaman Ki Badranala di desa Karangkembang dimana
terdapat beberapa makam yang menggunakan Klan / Marga Patra, dimulai
dari Istri Badranala sendiri, hingga beberapa keturunannya.
3. Hilangnya babad Trukahan dan riwayat Ki Singa Patra dimungkinkan
adanya kepentingan politik penguasa waktu itu. Terlebih riwayat Babad
Kebumen baru diterbitkan pada tahun 1953 di Praja Dalem Ngayogyakarta
Hadiningrat oleh R. Soemodidjojo ( seorang keturunan KP. Harya
Cakraningrat / Kanjeng Raden Harya Hadipati Danureja ingkang kaping VI,
Pepatih Dalem ing Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ), yang notabene
bukan warga asli bahkan mungkin tidak pernah sama sekali tinggal di
Panjer ataupun Trukahan / Kebumen. Dengan kata lain, warga Kelurahan
Kebumen baru mengenal sosok Bumidirdja semenjak diterbitkannya riwayat
Babad Kebumen yang kini lebih populer dengan adanya media Internet.
4. Kurun waktu Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma jelas lebih tua
daripada Bumidirja. Sedangkan Ki Badranala yang kemudian bermukim di
Panjer saat itu telah memperistri perempuan dari Klan Patra ( yang
mungkin mengilhami nama sebuah Hotel di Kota Kebumen ).
5. Menurut “ Sejarah Kebumen dalam Kerangka Sejarah Nasional “ yang
ditulis oleh Dadiyono Yudoprayitno ( Mantan Bupati Kebumen ) disebutkan
bahwa Pangeran Bumidirdja membuka tanah hasil pemberian Ki Gedhe Panjer
Roma II / Ki Hastrosuto ( anak Ki Badranala ). Riwayat ini pun tidak
disebutkan dalam Babad Kebumen. Riwayat yang lebih terkenal sampai saat
ini adalah riwayat yang ditulis oleh R. Soemodidjojo yang notabene bukan
warga asli dan bahkan mungkin belum pernah tinggal di Kebumen, dimana
diceritakan bahwa Kebumen berasal dari dari kata Ki Bumi yang merupakan
nama samaran dari Pangeran Bumidirja yang kemudian trukah di tepi sungai
Luk Ula, sehingga kemudian tempat tersebut dinamakan Kebumian.
6. Pasar Kebumen, pada awalnya berada di wilayah Trukahan, tepatnya di
daerah yang kini menjadi kantor Kecamatan Kebumen hingga kemudian pindah
ke daerah yang kini menjadi pasar Tumenggungan. Maka daerah di sekitar
bekas pasar lama tersebut sampai sekarang masih bernama Pasar Pari dan
Pasar Rabuk, karena memang lokasi pasar lama telah menggunakan sistem
pengelompokan.
7. Adanya pendatang setelah dibukanya tanah / trukah seperti yang
disebutkan dalam Babad Kebumen yang kemudian bermukim, juga bisa
diperkirakan mendiami daerah yang kini bernama Dukuh. Hal ini
dimungkinkan dengan sebutan nama Dukuh yang telah ada sejak lama.
Asal Mula Nama Tumenggung Kalapaking
Datangnya Pangeran Bumidirdja di Panjer, menimbulkan kekhawatiran Ki
Gedhe Panjer Roma II dan Tumenggung Wangsanegara Panjer Gunung karena
Pangeran Bumidirdja saat itu dinyatakan sebagai buronan Kerajaan.
Akhirnya Ki Gedhe Panjer Roma II dan Tumenggung Wangsanegara memutuskan
untuk meninggalkan Panjer dan tinggallah Ki Kertawangsa yang dipaksa
untuk tetap tinggal dan taat pada Mataram. Ia diserahi dua kekuasaan
Panjer dan kemudian bergelar Ki Gedhe panjer Roma III. Dua Kekuasaan
Panjer ( Panjer Roma dan Panjer Gunung ) membuktikan bahwa Panjer saat
itu sebagai sebuah wilayah berskala luas ( Kabupaten / Kadipaten )
sehingga dikategorikan dalam daerah Brang Kulon.
Pada tanggal 2 Juli 1677 Trunajaya berhasil menduduki istana Mataram
di Plered yang ketika itu diperintah oleh Sultan Amangkurat Agung (
Amangkurat I ). Sebelum Plered dikuasai oleh Trunajaya, Sultan
Amangkurat Agung dan putranya yang bernama Raden Mas Rahmat berhasil
melarikan diri ke arah Barat. Dalam pelarian tersebut, Sultan Amangkurat
Agung jatuh sakit. Beliau kemudian singgah di Panjer ( tepatnya pada
tanggal 2 Juni 1677 ) yang pada waktu itu diperintah oleh Ki Gedhe
Panjer III. Sultan Amangkurat I diobati oleh Ki Gedhe Panjer III dengan
air Kelapa Tua ( Aking ) karena pada waktu itu sangat sulit mencari
kelapa muda. Setelah diobati oleh Ki Gedhe Panjer III, kesehatan Sultan
Amangkurat I berangsur membaik. Beliau kemudian menganugerahi gelar
kepada Ki Gedhe Panjer III dengan pangkat Tumenggung Kalapa Aking I (
Kolopaking I, sebagai jabatan Adipati Panjer I ( 1677 – 1710 ).
Tumenggung Kalapaking I digantikan oleh putranya dan bergelar Tumenggung
Kalapaking II ( 1710 – 1751 ), dilanjutkan oleh Tumenggung Kalapaking
III ( 1751 – 1790 ) dan Tumenggung kalapaking IV ( 1790 – 1833 )).
Setelah merasa pulih, Sultan Amangkurat Agung melanjutkan perjalannya
menuju ke Barat, akan tetapi sakitnya ternyata kambuh kembali dan
akhirnya Beliau wafat di desa Wanayasa ( Kabupaten Banyumas ) tepatnya
pada tanggal 13 Juli 1677. Menurut Babad Tanah Jawi, kematian Sultan
Amangurat Agung dipercepat oleh air kelapa beracun pemberian Raden Mas
Rahmat ( putranya sendiri yang menyertai Beliau dalam pelarian ). Sesuai
dengan wasiatnya, Beliau kemudian dimakamkan di daerah Tegal Arum (
Tegal ) yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Tegal Wangi. Sementara
itu tampuk kepemimpinan Panjer periode Kolopaking hanya berlangsung
hingga Kolopaking IV dikarenakan adanya suksesi di Panjer pada waktu itu
antara Kalapaking IV dan Arungbinang IV yang berakhir dengan pembagian
wilayah dimana Kalapaking mendapat bagian di Karanganyar dan Banyumas,
sedangkan Arungbinang tetap di Panjer. Sejak pemerintahan Arungbinang IV
inilah Panjer Roma dan Panjer Gunung digabung Menjadi satu dengan nama
Kebumen. Berdasar pemaparan di atas, penulis menyimpulkan ( sumber :
sasmita yang penulis dapat ) bahwa berdirinya Pendopo Kabupaten Kebumen
di wilayah desa / kelurahan Bumirejo ( bukan di wilayah desa / kelurahan
Kebumen sebagai Nol Kilometernya pemerintahan, dimana seharusnya Desa,
Kecamatan, dan Kabupaten Kebumen berada dalam satu lingkup ) disebabkan
adanya suksesi antara Tumenggung Kalapaking IV dan Arungbinang IV. Untuk
memantapkan kedudukan setelah kemenangannya atas peristiwa pembagian
wilayah, Arungbinang IV mendirikan Pendopo Kabupaten baru yang kini
menjadi Pendopo dan Rumah Dinas Bupati Kebumen lengkap dengan alun –
alunnya. Adapun Pendopo Kabupaten lama / Kabupaten Panjer kemungkinan
berada di lokasi Pabrik Minyak Sari Nabati Panjer, dengan memperhatikan
tata kota yang masih ada ( seperti yang penulis paparkan dalam sub judul
Metamorfosis Panjer ) dan luas wilayah Pabrik yang mencapai sekitar 4
Ha, serta adanya pohon – pohon Beringin tua yang dalam sistem Macapat
digunakan sebagai simbol suatu pusat pemerintahan kota zaman kerajaan.
Begitu juga dengan Tugu Lawet yang pada awalnya merupakan tempat
berdirinya sebuah Pohon Beringin Kurung ( yang kemudian ditebang dan
dijadikan Tugu Lawet ), dimana di sebelah Utaranya adalah Kamar Bola (
gedung olahraga, pertunjukan dan dansa bagi orang Belanda ) serta lokasi
pasar Kebumen lama yang pada awalnya berada di wilayah Trukahan ( pusat
pasar rabuk berada di sebelah Timur Balai Desa Kebumen, pasar lama
berada di sebelah Utara klenteng, sub pasar rabuk berada di sebelah
Utara pasar lama, pasar pari / padi berada di sebelah Selatan klenteng
dan pasar burung yang tadinya merupakan Gedung Bioskup Belanda sebelum
dihancurkan dan kemudian didirikan gedung Bioskup Star lama di sebelah
Timur Tugu Lawet ), semakin menguatkan bahwa pusat pemerintahan
Kabupaten Panjer / Kebumen tempo dulu adalah di desa Panjer dan Trukahan
( sumber : wawancara tokoh sepuh desa Kebumen ). Hal ini sesuai juga
dengan kurun waktu berdirinya Masjid Agung Kauman Kebumen yang didirikan
oleh KH. Imanadi pada masa pemerintahan Arungbinang IV ( setelah masa
Diponegoro ) yang membuktikan bahwa berdirinya Pendopo Kabupaten Kebumen
yang berada di wilayah Kutosari dan Bumirejo merupakan pindahan dari
pusat kota lama di Panjer.
Historis Panjer
Seiring berjalannya waktu dan berkuasanya Belanda di Indonesia, desa
Panjer juga tidak luput dari kekuasaan Belanda. Panjer tetap dijadikan
basis pemerintahan oleh Pemerintah Belanda karena lokasinya yang sangat
trategis ( meskipun sejarah masa lalu itu telah hilang ). Hal ini dapat
kita lihat dari sisi genetik historisnya dimana Panjer sampai saat ini
adalah suatu desa / kelurahan yang lengkap dengan fasilitas – fasilitas
yang dibangun oleh Belanda jauh sebelum kemerdekaan, seperti: Stasiun
Kereta Api, Rumah Sakit ( dahulu dikenal dengan nama Sendeng; berasal
dari kata Zending yang berarti politik penyebaran agama Pemerintah
Kolonial Belanda dengan dalih pertolongan kesehatan ), Gedung
Pertunjukan, Pertahanan Militer, Perumahan Belanda yang lebih dikenal
dengan nama KONGSEN ( berasal dari kata Kongsi ), Taman Kanak – Kanak
yang dahulunya mungkin juga merupakan tempat pendidikan bagi anak – anak
para Pejabat Belanda yang tinggal di wilayah tersebut, serta Pabrik
Minyak Kelapa Sari Nabati ( yang hingga kini menjadi milik Perusda
Propinsi Jateng yang tutup sekitar tahun 1985 ).
Pergantian kekuasaan sejak zaman Mataram Islam, kolonial Belanda,
hingga Pemerintahan NKRI ternyata tidak mempengaruhi perubahan desa
Panjer dari segi Substansi dan Genetik Historis. Hal ini dapat kita
lihat dengan sebuah pembanding sebagai berikut :
Panjer Zaman Sultan Agung
1. Sebagai Lumbung padi dan Pusat Logistik Pasukan Mataram
2. Sebagai Kotaraja Kabupaten Panjer ( yang tentunya telah memiliki
kelengkapan fasilitas seperti kesehatan, transportasi, budaya, ekonomi,
pendidikan dan lain – lain meskipun masih bersifat sederhana )
3. Sebagai Basis Militer Mataram
Panjer Zaman Kolonial Balanda ( kemudian diteruskan oleh Jepang )
1. Sebagai Pusat logistik yakni dengan didirikannya Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati ( seluas 4 Ha ).
2. Sebagai desa yang memiliki berbagai fasilitas seperti Transportasi (
dengan didirikannya stasiun ), Perumahan Belanda ( lebih dikenal dengan
sebutan Kongsen lengkap dengan sarana dan prasarananya baik sarana
pendidikan anak – anak, Kesehatan ( Zending / Sendeng ) gedung
Pertunjukan ( Gedung Bioskup Gembira ), gedung olahraga dan aula yang
terdapat di dalam lokasi pabrik, dan lain – lain.
3. Basis Militer Belanda
Panjer Zaman Kemerdekaan
1. Sebagai Pusat Logistik ; dengan didirikannya Pabrik Minyak Kelapa
Sari Nabati oleh Belanda yang setelah tutup sekitar tahun 1985 kemudian
beralih fungsi sebagai gudang penampungan tebu sementara sebelum diolah
menjadi gula pasir di Pabrik Gula Yogyakarta; disewakan kepada pabrik
rokok untuk menampung cengkeh ( sekitar tahun 1989 ), disewakan sebagai
gudang penyimpanan bijih Plastik ( sekitar tahun 1990 ), disewakan
sebagai gudang beras Bulog, disewakan sebagai lahan perkebunan semangka;
disewakan sebagai kantor Pajak; disewakan sebagai tempat penyimpanan
sementara alat – alat berat kesehatan RSU; Sebagai tempat penampungan
sementara Kompor dan tabung gas dalam rangka program konversi gas pada
tahun 2009.
2. Terdapatnya pusat transportasi Kereta Api ( stasiun Kereta Api Kebumen )
3. Bertempatnya Markas TNI / Kodim Kebumen
4. Terdapatnya tempat pertunjukan Film ( gedung Bioskop Gembira, yang kini telah dibangun dan dialihkan fungsi )
5. sebagai tempat RSUD Kebumen
6. Terdapatnya tempat pendidikan Taman Kanak – Kanak PMK Sari Nabati
7. Terdapatnya Lapangan Tenis dan Bulutangkis, serta menjadi tempat
latihan Beladiri berbagai Perguruan yang ada di wilayah Kebumen (
sekitar tahun 1990 an )
8. terdapatnya Perumahan Nabatiasa
9. dan lain – lain.
Dilihat dari fakta – fakta di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
Panjer dari masa ke masa tidak memiliki perubahan fungsi, hanya saja
terus menyesuaikan dengan perkembangan peradaban dan budaya.
Romantisme Panjer Masa Lalu
Sebagai desa yang terbilang tua, Panjer penuh dengan benda – benda
budaya peninggalan dari tiga periode ( Mataram, Belanda dan Kemerdekaan )
yang dapat dikelompokkan kedalam dua bagian yaitu :
1. Benda yang Masih tersisa antara lain :
1. Bangunan Tua yang sangat Luas bekas Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati (
lengkap dengan rel dan Lori pengangkut kopra menuju pengolahan, saluran
irigasi, perkantoran, penimbangan, pos jaga, lapangan Bulutangkis dan
Aula dan lain – lain.
2. Perumahan Belanda ( Kongsen ) Nabatiasa.
3. Sumur Tua yang disinyalir sudah ada sejak jaman pra Mataram Islam
yang mungkin tadinya berwujud sendang. Sumur itu berada didalam lokasi
Pabrik paling Timur dengan diameter kurang lebih 4 M ( sekitar tahun
1990 an pernah terbit Surat Kabar Kebumen yang memuat sejarah Panjer
sebagai cikal bakal Kebumen, dimana disebutkan juga adanya Legenda
Sendang Kuno dan sebuah Batu Kuno semacam sebuah Prasasti di desa
Panjer, sayang hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
4. Tiga buah WC umum peninggalan Belanda yang terdapat di Selatan
perumahan Belanda yang kini disebut Kongsen dengan dua sumur umum yang
berdiameter sekitar 2,5 meter.
5. Bangkai Truk pengangkut Kopra yang teronggok di garasi depan Pabrik Sari Nabati.
6. Bekas Roda Meriam yang dipasang di dekat pintu masuk Pabrik dan lapangan Panjer sebelah Timur.
7. Pohon Pinus yang ditanam di pintu Masuk perumahan Kongsen sebelah Barat dan di sebelah utara Stasiun Kereta Api.
8. Pohon Kamboja peninggalan Belanda di halaman Taman Kanak – Kanak Sari Nabati.
2. Benda yang telah hilang antara lain :
1. Tiga buah Pohon Saman Raksasa di sebelah Utara stasiun yang ditebang
sekitar tahun 1989. Dahulu ketika pohon tersebut masih ada, daerah
tersebut terasa sangat klasik dan kuno. Berbagai jenis burung dapat kita
jumpai bersarang dan berkicau di atasnya. Terdapat juga Ayam Hutan yang
bersarang dan selalu berkokok di pagi hari di atas pohon tersebut.
2. Rel dan Lori yang berasal dari baja dan semua bahan – bahan yang
berasal dari besi, termasuk plat – plat besi tebal penutup saluran
irigasi ( kalen ), mesin pembuat dan pengolah minyak, seng atap penutup
pabrik, dan lain – lain ( dikarenakan sekitar tahun 2000 dilelangkan
sebagai barang bekas )
3. Tiga buah sumur pompa umum di kompleks perumahan / Kongsen.
4. Pintu “ HS “ ( pintu ruangan generator listrik pabrik jaman Belanda )
yang dahulu selalu membuka dengan sendirinya setiap Kamis sore dan
menutup Jumat sore ( di atas pintu tersebut terdapat tulisan berhuruf
Jawa dan Belanda “ High Stroom “. Setiap pintu tersebut membuka,
keluarlah sepasang burung gagak yang terbang mengitari wilayah Kongsen,
dan akan masuk kembali ke ruangan tersebut sesaat sebelum pintu tersebut
menutup ). Keanehan yang dahulu menjadi konsumsi hiburan bernuansa
magis gratis bagi masyarakat setempat kini tidak lagi bisa dilihat (
sejak sekitar tahun 1995 ). Bangunan Pabrik yang penuh dengan warisan
budaya tiga periode tersebut, yang dahulu terasa sangat indah, klasik
dan menyejukkan serta nyaman, kini 80% telah menjadi puing – puing yang
kokoh tanpa atap dan hutan semak belukar.
5. Kesenian Ebleg Panjer yang dahulu sangat terkenal di Kabupaten
Kebumen kini tidak lagi hidup, bahkan kelengkapan kesenian itu telah
rusak dan hanya tersisa sebuah Barongan Tua Keramat yang nyaris hilang (
barongan ini ditemukan kembali tanpa sengaja oleh seorang warga Panjer
di desa Kalirancang ).
6. Dua buah pohon Flamboyan raksasa yang tinggi dan sangat indah ketika
berbunga serta beberapa pohon Beringin besar yang berada di lapangan
Panjer sebelah Timur, tepatnya di sebelah Selatan bangunan WC umum
Kongsen.
7. Pohon Sakura yang berada di sebelah Utara sumur Kongsen bagian Barat (
dahulu sering digunakan untuk bermain anak – anak Kongsen, kemungkinan
peninggalan pejabat Jepang yang tinggal di sana waktu itu ).
8. Pintu masuk Kongsen sebelah Barat ( pintu tersebut dahulu sering digunakan untuk bermain ayunan oleh anak – anak Kongsen ).
9. Pohon Beringin besar yang berada di halaman Taman Kanak – Kanak Sari Nabati.
10. Bak Tempat Penampungan sampah buatan zaman Belanda ( dahulu terletak di sebelah selatan Kongsen ).
Kembalinya Barongan Tua Keramat Panjer
Bentuk seni dan budaya yang telah ada turun – temurun di desa Panjer
adalah Ebleg. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa Ebleg sama dengan
Kuda Lumping. Menurut penulis, Ebleg tidak bisa disamakan dengan Kuda
Lumping. Perbedaan antara Ebleg dan Kuda Lumping adalah :
Ebleg : Suatu kesenian khusus yang merupakan perpaduan antara tarian,
filosofi dan mistis yang di dalamnya mempunyai tiga instrumen pokok
yakni Gending, Barongan dan Kuda Lumping / Jaran Kepang. Menurut penulis
Ebleg adalah kesenian yang sudah berkembang sejak masa Sultan Agung
Hanyakrakusuma. Hal ini dapat diamati dari beberapa hal antara lain :
1. Gending ; melambangkan Sastra Gending, sebuah kitab karya Sultan Agung Hanyakrakusuma.
2. Barongan yang bentuknya meniru seekor singa ; melambangkan Sosok
Sultan Agung yang dari dahulu disegani dan mendapat julukan Singa Jawa
dari para lawannya.
3. Kuda Lumping / Jaran Kepang : melambangkan pasukan berkuda Mataram yang gagah dan berani mati, kompak dan disiplin.
Kuda Lumping : Suatu kesenian tarian ( tarian kuda ) hasil
pengembangan dari kesenian Ebleg dimana di dalamnya tidak mengharuskan
adanya barongan dan unsur mistis.
Barongan desa Panjer telah berusia lebih dari 100 tahun ( bahkan
dimungkin telah ada jauh sebelum jaman pra Kemerdekaan. Hal ini penulis
simpulkan setelah mewawancarai beberapa tokoh Ebleg Panjer, dimana tidak
ada satu pun dari mereka yang mengetahui sejak kapan Barongan tersebut
ada di Panjer. Dari semua narasumber yang ada, hanya mengetahui bahwa
Barongan tersebut telah ada sejak para leluhur mereka kecil ). Barongan
yang terbuat dari kayu Kendal dan dilapisi kulit Harimau Tutul itu
sempat hilang setelah kevakuman kesenian Ebleg Panjer pada sekitar tahun
1995. Hilangnya Barongan Keramat tersebut diketahui setelah seorang
mantan pemain Ebleg Panjer yang bernama Waris ( Pak Waris ) yang
kebetulan bekerja sebagai Penjaga Pabrik Sari Nabati mempunyai itikad
untuk menghidupkan kembali kesenian tersebut. Sekitar tahun 2003 Beliau
secara kebetulan berbincang – bincang dengan seorang Kusir Dokar dari
desa Kalirancang yang mangkal di stasiun Kebumen dimana topik
pembicaraan pada saat itu adalah kesenian Ebleg. Kusir Dokar tersebut
bercerita bahwa di desanya memiliki kesenian Ebleg yang juga tidak aktif
lagi. Adapun barongannya konon kabarnya dahulu meminjam dari desa
Panjer. Berangkat dari cerita tersebut akhirnya Pak Waris segera
menghubungi pengurus Ebleg Kalirancang melalui kusir dokar tersebut dan
akhirnya kembalilah Barongan Tua desa Panjer ke asalnya. Tahap
selanjutnya, Pak Waris mengumpulkan para mantan pemain ebleg dan
mengajak untuk menghidupkan kembali Ebleg Panjer yang terbilang paling
tua di Kabupaten Kebumen tersebut. Beliau bersama Pak Dalang Parijo (
alm. ) pada saat itu segera memimpin kembali latihan ebleg dengan
peralatan seadanya yakni “ sapu ijuk “ yang dijadikan peraga pengganti
kuda lumping yang ketika itu telah rusak. Setelah keseragaman geraktari
dan gending pengiring dirasa padu, maka dimulailah latihan sekaligus
pagelaran rutin di lapangan Manunggal Kodim setiap hari Kamis Wage (
sesuai tradisi jaman dahulu ). Peraga Kuda Lumping pun kemudian dibeli
oleh grup kesenian Ebleg Panjer di daerah Bocor dengan swadana dari
anggota. Kesenian tua yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Panjer
dan terkenal di Kabupaten Kebumen itu sangat disayangkan kini kembali
vakum. Hal ini disebabkan kurangnya perhatian pemerintah baik Desa
maupun Kabupaten.
Sebuah pujian dan acungan jempol kiranya patut sekali diberikan
kepada para anggota kesenian Ebleg Panjer yang ternyata hingga saat ini
masih berkemauan keras untuk menghidupkan kembali kesenian tersebut di
tengah munculnya kesenian baru di desa Panjer ( kesenian Kentongan
Banyumasan dan Janeng ). Rapat kecil para anggota pun telah dilaksanakan
untuk membentuk wadah dan kepengurusan. Harapan penulis, semoga
pemerintah setempat ataupun pemerintah Kabupaten Kebumen segera
memberikan perhatian dan dukungan ( apresiasi ) yang serius terhadap
kesenian Ebleg Panjer yang merupakan kesenian Ebleg Tertua di Kabupaten
Kebumen. Kesenian tua dari desa yang pernah menjadi pusat kekuatan
Pasukan Mataram saat memerangi Belanda silam.
Panjer dalam Kenangan Penulis
Saya lahir di desa Panjer pada tahun 1980. Ayah saya bekerja sebagai
karyawan di Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati. Sejak dilahir hingga tahun
1993, saya tinggal besama orang tua di Perumahan Nabatiyasa ( Eks
Perumahan Belanda ) yang lebih dikenal dengan sebutan Kongsen. Saya
sempat menikmati saat – saat kejayaan Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati
sebelum akhirnya tutup pada tahun 1985. Banyak kenangan indah di desa
Panjer yang tak bisa tergantikan dengan apapun yang ternyata sangat
mempengaruhi pembentukan kepribadian saya.
Sebagai anak seorang karyawan, sebuah kenangan indah adalah menaiki
Lori menuju lokasi pengambilan jatah minyak dan logistik bulanan bagi
karyawan. Naik Lori adalah pengalaman langka yang tidak bisa dinikmati
oleh semua anak, hal ini dikarenakan Lori hanya ada di tempat – tempat
tertentu seperti Pabrik Minyak, Pabrik Gula dan sejenisnya. Setiap
tengah malam, suara peluit dari cerobong Pabrik sebagai penanda
pergantian shif terasa khas dan klasik, perpaduan rasa mencekam dan
sakral bagi setiap anak kecil di Kongsen.
Bersama teman – teman sebaya bermain melihat fenomena spiritual
membuka dan menutupnya pintu “ HS “ serta keluar dan masuknya sepasang
burung gagak adalah pengalaman yang langka dan hanya dapat disaksikan di
Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati Panjer. Di atas pintu yang tidak lagi
membuka tersebut, kini tumbuh sebuah pohon Beringin yang akarnya telah
menutupi sebagian pintu.
Pabrik seluas 4 Ha yang terkenal kuno dan angker itu pun urung dijadikan
tempat Uji Nyali sebuah program acara reality show beberapa waktu
silam, dikarenakan ketidakberanian tim penyelenggara acara menanggung
kemungkinan resiko yang akan ada jika mengambil tempat yang terlalu Kuno
dan Angker.
Panjer tempo dulu sepertinya juga menjadi pusat kerajinan batu mulia.
Hal ini terbukti dengan ditemukannya berbagai batu akik baik yang telah
jadi maupun bahan mentah di depan halaman rumah paling barat ( yang
menghadap selatan ), sehingga kenangan anak – anak Kongsen pun semakin
lengkap dengan adanya kegiatan mencari batu akik selepas hujan reda di
tempat tersebut. Dengan penuh ketekunan dan kejelian anak – anak saat
itu “ Ndhodhok “ sambil menajamkan pandangan terhadap sinar kilau dari
batu yang muncul akibat lapisan tanah penutupnya terbawa air.
Ketika Bunga flamboyan raksasa berbunga, anak – anak Kongsen dengan
riang gembira bermain di bawah jingganya bunga- bunga yang berguguran
menutup tanah di bawahnya. Sambil menari – nari, anak – anak membunyikan
polong yang jatuh dari pohon tersebut untuk selanjutnya mereka gunakan
sebagai alat musik “ ecek – ecek “ sambil berteriak riang “ Hore – Hore…
Salju “ ( bunga flamboyan yang berguguran diimajinasikan seperti salju
jingga ).
Masa dibukanya penutup saluran irigasi / kalen juga merupakan saat
yang sangat dinanti bagi anak – anak Kongsen, sebab di masa itulah anak –
anak turun beramai – ramai dengan peralatan yang ada untuk mengambil
ratusan ikan lele lokal yang besarnya bisa mencapai 1 Kg ( perekornya ),
ikan – ikan Behtok dan Gabus ( Bayong ) yang selama musim mengalirnya
air irigasi bersembunyi di selokan yang tertutup plat tersebut. Panen
ini dirasakan seluruh warga Kongsen.
Ketika musim kemarau tiba, dua buah sumur tua Kongsen yang kebetulan
ikut surut dan keruh pun, dikuras oleh warga. Pengurasan ini merupakan
saat menyenangkan bagi anak – anak Kongsen yang ikut bekerjabakti
menguras sumur, sebab di dalamnya banyak ditemukan benda – benda klasik
seperti Keris, batu Akik, dan lain – lain yang tentunya hal ini tidak
didapati di setiap sumur.
Anak – anak Kongsen juga akrab dengan cerita hantu, namun cerita
hantu di daerah Panjer tidak seperti kebanyakan ( misal pocong,
kuntilanak dan sejenisnya ). Hantu di Panjer yang telah banyak dilihat
oleh warga sekitar dan orang – orang dari luar Panjer yang kebetulan
berolahraga Bulutangkis malam di lapangan dalam Pabrik adalah hantu
Keranda, hantu Kereta Kuda dan Rombongan Kuda, hantu Orang Belanda,
hantu Prajurit jaman kerajaan ( yang menunggu pintu masuk WC umum ),
serta berupa suara – suara tanpa wujud seperti berbunyinya tiang dari
besi di lapangan timur tanpa ada yang membunyikan setiap tengah malam
yang selalu menjadikan rasa penasaran anak – anak Kongsen. Layaknya
detektif, anak – anak yang bermain kemah – kemahan setiap liburan
sekolah, selalu mengamati dari kejauhan peristiwa itu dengan penuh
keheranan bercampur takut.
Pada saat – saat akhir kejayaan pabrik, anak – anak mempunyai
kebiasan mengambil beberapa kopra yang sedang dijemur dan memakannya.
Rasa manis dan gurih dari kopra hingga kini mungkin masih termemori
dalam ingatan anak – anak Kongsen.
Tutupnya Pabrik dan bergantinya fungsi menjadi tempat penampungan
tebu sementara adalah hal yang tetap menggembirakan bagi anak – anak
Kongsen, sebab setiap truk tebu yang datang penuh muatan, menjadi
harapan bagi anak – anak. Mereka dengan cekatan mengambil tanpa ijin
dengan mengendap – ngendap di bawah truk yang berhenti di garasi,
tentunya setelah melompati pagar besi terlebih dahulu.
Setiap bulan puasa, kegiatan rutin anak – anak Kongsen selain mengaji
adalah menunggu buka puasa dengan melihat kereta api dan keluarnya
kawanan kelelawar yang bersarang di gudang garam kompleks stasiun.
Ribuah kelelawar itu akan menjadi tontonan kembali di pagi harinya
setelah usai solat Subuh saat kelelawar tersebut pulang ke sarangnya.
Datangnya sekelompok wisatawan asing yang lebih dikenal dengan ”
turis “ setiap tahun ke pabrik juga merupakan hal yang menarik bagi anak
– anak Kongsen. Mereka selalu mengambil foto untuk dokumentasi sebuah
pabrik tempat nenek moyangnya dahulu bermukim dan bekerja. Turis – turis
tersebut adalah keturunan dari para pembesar Belanda yang sebelum
kemerdekaan menempati dan mengelola pabrik Panjer.
Kerjabakti membersihkan rumput ilalang di lokasi pabrik sebelah timur
yang sangat luas juga merupakan kebahagiaan tersendiri bagi anak – anak
Kongsen. Setiap musim kemarau saat ilalang dan rumput perdu mengering
telah dibakar, terlihat jelas dasar – dasar lantai pabrik masa lalu
sebagai tempat pembuatan minyak kelapa raksasa. Dibakarnya terlebih
dahulu lokasi tersebut untuk mempermudah dan mematikan puluhan ular
kobra yang banyak terdapat di area tersebut. Karena jarang dilalui
manusia, burung – burung yang indah dan beraneka macam pun banyak
bersarang di lokasi tersebut. Kawasan itu layaknya sebuah pulau kecil
yang hanya dihuni oleh sekawanan burung – burung dan binatang lainnya.
Dahulu di lokasi ini pernah juga ditemukan seonggok tutup Tank (
kendaraan tempur ) milik Belanda.
Panjer memang sebuah desa yang hingga sekarang masih khas dengan
kekunoannya, meskipun mungkin dalam sejarah berdirinya Kebumen banyak
hal yang tertutup mengenai desa ini dan hanya terekspos sosok Bumidirja
dan Jaka Sangkrip. Kurangnya perhatian Pemerintah terhadap sejarah
Kebumen, Panjer dan desa – desa lainnya kiranya sangat mempengaruhi
pengetahuan dan kecintaan masyarakat Kebumen kepada tempat lahirnya.
Kerancuan – kerancuan sejarah pun banyak sekali dijumpai misal :
Makam Pangeran Bumidirja di Lundong Kutowinangun.
Makam tersebut mengundang tandatanya bagi penulis. Pangeran Bumidirdja
adalah nama lain dari Ki Bumi, tetapi mengapa di makam tersebut terdapat
dua makam dimana yang satu bertuliskan Pangeran Bumidirdja ( di dalam
cungkub ), sedangkan yang satunya lagi bertuliskan Ki Bumi ( di luar
cungkub ). Kerancuan yang lain juga terdapat pada makam yang berada di
sebelah makam P. Bumidirdja yang bertuliskan P. Mangkubumi II. Hal ini
jelas akan mengundang reaksi kritis, sebab Pangeran Mangkubumi adalah
gelar dari RM . Sujono ( salah satu putra dari Amangkurat Jawi / RM.
Surya Putra dengan garwa selir ) yang setelah menjadi raja ( akibat
perjanjian Giyanti tentang pembagian tanah sengketa ) kemudian bergelar
Sultan Hamengkubuwana I, sehingga Pangeran Mangkubumi II adalah gelar
lain dari Sultan Hamengkubuwana II ( RM. Sundoro ). Adanya penulis Babad
Kebumen atau Panjer yang mengatakan bahwa Ki Bumi adalah P. Mangkubumi,
bisa dikatakan tidak memahami benar – benar tokoh – tokoh tersebut dan
kedudukannya di dalam pemerintahan Mataram pada masa itu. Begitu juga
dengan adanya makam Ki Bumi dan P. Bumidirja yang saya sebutkan tadi,
dapat disimpulkan bahwa yang bertugas dalam bidang sejarah dan budaya
Kabupaten Kebumen kurang jeli dan memperhatikan antara sejarah, dongeng
dan fakta yang ada.
SUMBER http://adisulistyo.wordpress.com